HUMAS BANJARBARU- Siapa yang tidak kenal dengan tokoh utama pembangunan Kota Banjarbaru? Ya,dialah seorang arsitektur kelahiran Brakel Belanda, 23 Januari 1901 yang bernama Ir D A W Van Der Pijl. Dan sebagai salah satu bentuk penghargaan kepada tokoh ini, ada satu nama taman di pusat kota yang disebut Taman Van Der Pijl. MARIJKE ELIZABETH, salah satu putri pasangan Van Der Pijl dan Anna Gaspers menuturkan, sekitar tahun 1950an, ayahnya datang ke Banjarbaru atas utusan Gubenur Kalimantan saat itu, Dr Murdjani.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kalimantan ini diutus karena masalah genangan air yang menghantui Kota Banjarmasin. Khususnya pada saat apel senin di depan kantor Banjarmasin. Hujan yang mengguyur kemudian menyebabkan banjir saat upacara. “Opa (sang Ayah, red) diperintahkan untuk mencari daerah dataran tinggi di Km 35 tepatnya di gunung apam. Setelah dapat akhirnya master plan Kota Banjarbaru dikerjakan oleh opa,” ujarnya

Dari catatan wikipedia wilayah Banjarbaru sekarang dulunya adalah perbukitan di pinggiran Kota Martapura yang dikenal dengan nama Gunung Apam. Daerah Gunung Apam dikenal sebagai daerah peristirahatan buruh-buruh penambang intan selepas menambang di Cempaka. kawasan Gunung Apam juga meliputi kampung Guntung Payung,Kampung jawa kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar.

Setelah tiba dikawasan Gunung Apam,Van Der Pijl pun menyusun master plan bagi kawasan yang digadang-gadang menjadi pusat ibukota Kalimantan, menggantikan Kota Banjarmasin ini. Berkat kerja kerasnya master plan tiga kawasan berhasil ia bangun yakni Banjarbaru I, II dan III.sayangnya karena dipindah ke Kota Palangka Raya, maka kawasan Banjarbaru IV belum berhasil tertata.

Anak Kedua Van Der Pijl tersebut juga mengisahkan kalau nama Banjarbaru sendiri didapat saat sang ayah sedang kebingungan mencari nama daerah yang master plannya tersebut diselesaikan. Ia mengatakan nama Banjarbaru itu berlatar belakang dua nama daerah yaitu Banjarmasin dan Kabupaten Banjar. Akhirnya dengan pertimbangan itu masih menggunakan kata Banjar Van Der Pijl menamakan Banjarbaru.” Asal mulanya nama Banjarbaru itu tidak menyambung tetapi berpisah, Bandjar Baroe. Tetapi kami tidak tahu kenapa sekarang menjadi bersambung,” terangnya.

Keberhasilan Van Der Pijl merancang Kota Banjarbaru ternyata tidak lepas dari karakternya yang disiplin meski tetap low profile. Menurut Marijke, opanya selalu bekerja dengan meja dan kertas gambar yang besar. Jika sang maestro perancang Banjarbaru tersebut sedang bekerja,maka tidak mau diganggu oleh siapapun. “Pernah suatu kali opa sedang bekerja di ruang tengah rumah ini. Saya bolak balik lewat dimana opa sedang serius. Beliau langsung bilang ke saya, kamu sudah berkali-kali bolak-balik disini. Mengganggu opa sedang bekerja,” tuturnya dengan menirukan aksen dialog mendiang Van Der Pijl.

Disisi lain tetangga Van Der Pijl Rico Hasyim menambahkan kalau mendiang Van Der Pijl adalah orang yang sederhana. Sebab saat ia menjabat jadi wakil di Dinas Pekerjaan Umum Kalimantan tidak mau memakai mobil Dinas. Rico mengisahkan kemana-mana Van Der Pijl selalu memakai sepada onthel.

“Sejak kecil sampai SMP saya adalah tetangga Van Der Pijl,saya sangan paham betul beliau sangat baik dengan masyarakat. Bahkan beliau jarang menggunakan bahasa Belanda untuk bicara sehari-hari. Bahasa Indonesia justru lebih sering digunakan. Seakan-akan beliau adalah asli orang Indonesia,” ucapnya seraya mengatakan kalau saat ini sedang menyusun buku tentang Van Der Pilj (Sumber Radar Banjarmasin)